NGOMPOL PADA ANAK BISA MENURUN



Bayi mengompol ? wajar. Sebab, pada bayi, begitu kandung kemihnya terisi sampai tekanan tertentu, otomatis terjadi kontraksi dan keluarlah kencing.

Seiring bertambahnya usia dan perkembangan otak, anak bisa mengolah sinyal dari bladder (kandung kemih) dan mengirimnya kembali. Harapanya, bladder bisa mengendalikan refleks kencing otomatis. Biasanya, umur 2-3 tahun, anak sudah tidak ngompol lagi, kata Dr Linardhi Widjaya SpSK.

Ada kalanya, meski usianya lebih dari 5 tahun, anak masih mengompol. Bila hal itu terjadi, ada kemungkinan faktor keturunan. Sekitar 40% penyebab anak masih mengompol adalah faktor keturunan, ungkapnya.
Yakni, ukuran bladder kecil. Atau perkembangan sleep arousal system anak lambat ketika muncul rangsangan bladder yang sudah terisi penuh. Penyebab lainya, produksi hormon pengendali kencing (ADH) tak menurun ketika malam seperti lazimnya.

Selain faktor keturunan, spesialis saraf Siloam Hospital Surabaya itu menyebutkan faktor kecemasan. Misalnya orang tua pemarah, anak berada dilingkungan yang asing, dan ada kejadian besar (adik baru). Hal-hal tersebut mengakibatkan anak yang tidak mengompol akan kembali mengompol.

Faktor genetik, ucap Linardhi, juga berpengaruh. Seorang peneliti Denmark pada 1995 menyatakan, terdapat site pada human chromosome 13 terkait dengan ngompol malam. Bila orang tua memiliki riwayat mengompol, peluang anaknya mengompol mencapai 80%.

Satu hal yang perlu diingat, pada anak-anak, secara alamiah ngompol akan sembuh sendiri. Sebab, kapasitas bladder-nya menjadi normal, jelasnya. Alarm alamiah penanda tubuh harus mengkosongkan kandung kencing juga berfungsi kembali. Serta produksi ADH kembali normal, dan periode stres mereda, imbuhnya.

Proses buang air kecil diawali dengan produksi urine oleh dua ginjal. Kemudian, urine disalurkan oleh dua saluran ureter ke kandung kemih. Urine di tampung dalam bladder untuk sementara waktu sebelum dibuang keluar tubuh melalui uretra.

jawa pos